Kamis, 29 November 2007

Mana Indonesiaku Yang Dulu !!!!

Kemerdekaan negara kita telah menjanjikan akan menjadikan negeri ini gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto rahardjo, subur kangsarwo tinandur, murah kang sarwo tinuku. Di awal kemerdekaan RI banyak negara-negara Asia Afrika yang terinspirasi oleh perjuangan yang telah dilakukan oleh rakyat Indonesia. Hingga banyak negara-negara lain yang menganggap bahwa Indonesia akan mengalami kemajuan terlebih dulu dibandingkan negara-negara seumurnya.

Namun kenyataan mengatakan sebaliknya. Setelah diawal-awal kemerdekaan Indonesia mengalami kemajuan dengan pesat, pada suatu saat negara kita mengalami stagnasi dalam pembangunan di segala bidang. Bahkan dapat dikatakan bahwa bangsa Indonesia mengalami degradasi di segala bidang yang diperparah dengan krisis moneter yang merambah di segala bidang pada tahun 1997-an.

Hingga saat ini, impian tentang negara yang sejahtera, adil dan makmur juga masih belum menjadi kenyataan. Bahkan sebagian masyarakat tampak gamang akan masa depan Indonesia. Di luar negeri juga banyak analisis tentang masa depan Indonesia dengan bermacam pendekatan, di antaranya ramalan bahwa negara kita akan mengalami disintegrasi seperti Uni Soviet dan Yugoslavia. Kajian Jared Diamond dalam buku Collapse di tahun 2005 meramalkan kehancuran Indonesia.

Banyak hal yang harus diperbaiki secara mendasar untuk menuju negara yang gemah ripah loh jinawi.
Jangan serahkan negara ini pada sekelompok orang yang tidak memiliki konsep dan perilaku adil dalam kepemimpinan.
Jangan biarkan negara ini berjalan dengan dalih demokrasi yang semakin tidak jelas mendefinisikannya.
Dan jangan biarkan negara ini menjadi banci dalam menghadapi ancaman negara lain.

Kelak anak cucu kita akan menagih janji
negeri yang gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto rahardjo, subur kangsarwo tinandur, murah kang sarwo tinuku.


Nelayan Indonesia, kemiskinan menjadi harga mati


"Prostitusi, warung miras dan tempat hiburan malam bisa dipastikan hadir di setiap perkampungan nelayan. Selesai melaut uang biasanya habis di tempat hiburan. Untuk menyambung hidup selalu berutang pada tengkulak". Itulah kalimat yang sering terdengar ketika kita membahas tentang perkampungan nelayan di Indonesia. Kehidupan yang keras, lingkungan kumuh, kehidupan sosial amburadul serta kemiskinan kultural yang sangat memperparah kondisi masyarakat nelayan.

Seolah kemiskinan menjadi harga mati bagi nelayan di Indonesia. Hari ini saya membaca di salah satu koran nasional bahwa nelayan Indonesia tertangkap oleh pihak keamanan Australia karena memasuki wilayah teritorial mereka. Terlepas dari apakah ada unsur kesengajaan atau ketidaktahuan mereka, seharusnya kita semua prihatin melihat kejadian ini. Mengingat 70% wilayah Indonesia adalah perairan, seharusnya sudah sangat cukup bahkan berlebih untuk menopang kebutuhan perekonomian negara.

Sebetulnya sektor kelautan sangat potensial untuk membangun kemakmuran di Indonesia. Potensi hasil laut Indonesia sebesar 82 miliar dollar AS dapat digunakan untuk melunasi utang luar negeri Indonesia secara bertahap.

Mengapa kita tidak bisa mencontoh negara-negara maju yang menggantungkan hidupnya dari sektor laut. 80% penduduk Islandia yang menggantungkan hidup dari hasil laut memiliki pendapatan per kapita USD 35 ribu per tahun.
Norwegia memiliki pendapatan per kapita mencapai USD 40 ribu per tahun dengan kombinasi pendapatan dari sektor migas dan kelautan.

Lalu berapa pendapatan per kapita nelayan Indonesia?




Minggu, 18 November 2007

Kawah Ijen, penghasil Sulfur dengan penambangan yang masih tradisional


Beberapa bulan yang lalu saya sempat harus naik ke puncak Ijen. Perjalanan dari Surabaya cukup jauh untuk ditempuh. Kami berangkat dari Surabaya sekitar pukul 13.00 WIB dan sampai pada pos untuk pendakian Paltuding (mudah-mudahan tidak salah mengeja..) sekitar pukul 12 malam. Kebetulan pada saat yang sama semua tempat untuk istirahat (tidur) sudah dipenuhi oleh rombongan lain yang memiliki tujuan yang sama. ya... akhirnya kami serombongan harus tidur di Mushola dan beberapa di dalam mobil. Suhu di Paltuding mulai menusuk tulang ketika waktu menunjukkan sekitar pukul 2 pagi. Kami menjadwalkan pendakian pukul 4 pagi dengan harapan bisa melihat proses penambangan Belerang yang selalu dilakukan di pagi hari.

Acara ini memang saya lakukan untuk peliputan penambangan tradisional Belerang yang dilakukan oleh masyarakat sekitar Ijen. Kebetulan saya dibantu oleh teman-teman dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Jawa Timur untuk menemani proses peliputan.

Sekitar pukul 4 pagi kami semua mulai berangkat mendaki. Luar biasa, setelah lama tidak melakukan perjalanan ke gunung, perjalanan ini terasa sangat berat sekali. Jalanan sangat licin arena berpasir membuat kami harus sangat hati-hati karena di ransel kami berisi kamera dan propertinya yang tidak boleh terkena benturan. Sehingga kami harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset.
Sekitar pukul 5 pagi, pemandangan mulai terlihat dan kami masih di tengah perjalanan. View pegunungan yang luar biasa. Layering bukit-bukit di sekitar dan sedikit kabut sangat luar biasa.

Tidak terasa perjalanan telah kami tempuh selama 2 jam. Namun kami baru sampai pada separuh perjalanan. Kami berhenti di pos pertama untuk peristirahatan. Kami memanfaatkan utuk makan pagi sekaligus menikmati pemandangan sekitar.

Ternyata kami harus segera berangkat lagi untuk melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan saya mulai bertemu dengan pemikul-pemikul belerang dengan berat kurang lebih 70 Kg. Saya sangat kagum dengan kegigihan mereka. Dengan beban di pundak sekitar 70 Kg mereka harus berjalan naik dan turun gunung sejauh kurang lebih 7 Km PP.... setiap hari!! Dan mau tau berapa bayaran mereka? hanya 400 rupiah saja per kilogramnya. Jadi untuk mengangkut belerang-belerang itu ke bawah, mereka cuma dapat bayaran sekitar 28 ribu saja. Itupun mereka harus menjaga kesehatan karena asap belerang yang sangat tidak sehat, dan mereka harus sering minum jamu dan kacang ijo untuk mengantisipasinya. Rata-rata mereka hanya mampu mengangkut belerang satu kali dalam sehari.

Akhirnya kami sampai puncak pegunungan. Pemandangan semakin indah. Namun untuk mengetahui penambangan kami harus turun hingga sampai pada kawah sekitar 200 meter. Proses penambangan masih sangat-sangat tradisional dengan melewati beberapa fase penambangan mulai dari sublimasi hingga pencucian. Beberapa saat kami harus menutup hidung dan menahan nafas karena terpaan debu yang mengandung belerang.

Pukul 11 kami harus turun karena panas sudah melai menyengat. Dilanjutkan perjalanan kembali ke Surabaya dan tiba sekitar pukul 12 malam.