Kamis, 29 November 2007

Nelayan Indonesia, kemiskinan menjadi harga mati


"Prostitusi, warung miras dan tempat hiburan malam bisa dipastikan hadir di setiap perkampungan nelayan. Selesai melaut uang biasanya habis di tempat hiburan. Untuk menyambung hidup selalu berutang pada tengkulak". Itulah kalimat yang sering terdengar ketika kita membahas tentang perkampungan nelayan di Indonesia. Kehidupan yang keras, lingkungan kumuh, kehidupan sosial amburadul serta kemiskinan kultural yang sangat memperparah kondisi masyarakat nelayan.

Seolah kemiskinan menjadi harga mati bagi nelayan di Indonesia. Hari ini saya membaca di salah satu koran nasional bahwa nelayan Indonesia tertangkap oleh pihak keamanan Australia karena memasuki wilayah teritorial mereka. Terlepas dari apakah ada unsur kesengajaan atau ketidaktahuan mereka, seharusnya kita semua prihatin melihat kejadian ini. Mengingat 70% wilayah Indonesia adalah perairan, seharusnya sudah sangat cukup bahkan berlebih untuk menopang kebutuhan perekonomian negara.

Sebetulnya sektor kelautan sangat potensial untuk membangun kemakmuran di Indonesia. Potensi hasil laut Indonesia sebesar 82 miliar dollar AS dapat digunakan untuk melunasi utang luar negeri Indonesia secara bertahap.

Mengapa kita tidak bisa mencontoh negara-negara maju yang menggantungkan hidupnya dari sektor laut. 80% penduduk Islandia yang menggantungkan hidup dari hasil laut memiliki pendapatan per kapita USD 35 ribu per tahun.
Norwegia memiliki pendapatan per kapita mencapai USD 40 ribu per tahun dengan kombinasi pendapatan dari sektor migas dan kelautan.

Lalu berapa pendapatan per kapita nelayan Indonesia?




Tidak ada komentar: