Minggu, 18 November 2007

Kawah Ijen, penghasil Sulfur dengan penambangan yang masih tradisional


Beberapa bulan yang lalu saya sempat harus naik ke puncak Ijen. Perjalanan dari Surabaya cukup jauh untuk ditempuh. Kami berangkat dari Surabaya sekitar pukul 13.00 WIB dan sampai pada pos untuk pendakian Paltuding (mudah-mudahan tidak salah mengeja..) sekitar pukul 12 malam. Kebetulan pada saat yang sama semua tempat untuk istirahat (tidur) sudah dipenuhi oleh rombongan lain yang memiliki tujuan yang sama. ya... akhirnya kami serombongan harus tidur di Mushola dan beberapa di dalam mobil. Suhu di Paltuding mulai menusuk tulang ketika waktu menunjukkan sekitar pukul 2 pagi. Kami menjadwalkan pendakian pukul 4 pagi dengan harapan bisa melihat proses penambangan Belerang yang selalu dilakukan di pagi hari.

Acara ini memang saya lakukan untuk peliputan penambangan tradisional Belerang yang dilakukan oleh masyarakat sekitar Ijen. Kebetulan saya dibantu oleh teman-teman dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Jawa Timur untuk menemani proses peliputan.

Sekitar pukul 4 pagi kami semua mulai berangkat mendaki. Luar biasa, setelah lama tidak melakukan perjalanan ke gunung, perjalanan ini terasa sangat berat sekali. Jalanan sangat licin arena berpasir membuat kami harus sangat hati-hati karena di ransel kami berisi kamera dan propertinya yang tidak boleh terkena benturan. Sehingga kami harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset.
Sekitar pukul 5 pagi, pemandangan mulai terlihat dan kami masih di tengah perjalanan. View pegunungan yang luar biasa. Layering bukit-bukit di sekitar dan sedikit kabut sangat luar biasa.

Tidak terasa perjalanan telah kami tempuh selama 2 jam. Namun kami baru sampai pada separuh perjalanan. Kami berhenti di pos pertama untuk peristirahatan. Kami memanfaatkan utuk makan pagi sekaligus menikmati pemandangan sekitar.

Ternyata kami harus segera berangkat lagi untuk melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan saya mulai bertemu dengan pemikul-pemikul belerang dengan berat kurang lebih 70 Kg. Saya sangat kagum dengan kegigihan mereka. Dengan beban di pundak sekitar 70 Kg mereka harus berjalan naik dan turun gunung sejauh kurang lebih 7 Km PP.... setiap hari!! Dan mau tau berapa bayaran mereka? hanya 400 rupiah saja per kilogramnya. Jadi untuk mengangkut belerang-belerang itu ke bawah, mereka cuma dapat bayaran sekitar 28 ribu saja. Itupun mereka harus menjaga kesehatan karena asap belerang yang sangat tidak sehat, dan mereka harus sering minum jamu dan kacang ijo untuk mengantisipasinya. Rata-rata mereka hanya mampu mengangkut belerang satu kali dalam sehari.

Akhirnya kami sampai puncak pegunungan. Pemandangan semakin indah. Namun untuk mengetahui penambangan kami harus turun hingga sampai pada kawah sekitar 200 meter. Proses penambangan masih sangat-sangat tradisional dengan melewati beberapa fase penambangan mulai dari sublimasi hingga pencucian. Beberapa saat kami harus menutup hidung dan menahan nafas karena terpaan debu yang mengandung belerang.

Pukul 11 kami harus turun karena panas sudah melai menyengat. Dilanjutkan perjalanan kembali ke Surabaya dan tiba sekitar pukul 12 malam.





Tidak ada komentar: